PRABUMULIH, PP - Masih mending bak minum obat tiga kali sehari. Nah yang ini sudah keterlaluan. Bayangkan dalam sehari 6 kali mati lampu. Hidup bentar, trus mati lagi, hidup lagi eh mati lagi. Tak lama kemudian dan belum lagi dua detik dah mati lagi, begitu seterusnya. Akibat kejadian pemadaman dak karuan ini sekelurahan warga Karang Raja pun mengumpat dan mengutuk aksi PLN Prabumulih yang sudah keterlaluan dan menyimpang dari ketentuan pelayanan. Pasalnya, peralatan listrik milik warga jika terus-terus demikian dipastikan banyak yang tewas.
Tak pelak warga pun mulai kesal dimana kejadian luar biasa ini mulai mengahantui. Tercatat mulai tanggal 27 hingga tanggal 30 mei 2013 setiap sore menjelang Maghrib mati lampu secara tiba-tiba. Bahkan kegiatan Adzan pun menjadi terganggu akibat seringnya mati lampu.
"TV LCD saya yang 42 inch sebentar lagi akan saya hantarkan ke PLN. Dak diganti begocoh jadi. Ado nian. Ini dak main-main. Silahkan bae mati lampu dengan catatan ada pemberitahuan agar pelanggan bisa mengantisipasi kemungkinan kerusakan pada peralatan elektronik di rumah. Alat elektronik saya banyak rusak. Kalau sudah seperti ini siapa yang mau bertanggungjawab. Seharusnya PLN profesional, jangan hanya ketika pelanggan terlambat membayar, aliran listrik diputus. Ketika pelanggan dirugikan seperti ini, harusnya PLN juga memberikan kompensasi, itu baru berimbang namonyo" ujar Slamet warga Karang Raja.
Akibat pemadaman lampu tidak karuan oleh PLN, pria yang akrab disapa Memed ini mengaku mengalami kerugian dimana televisi LCD ukuran 42 inchi miliknya rusak. Parahnya, ketika dibawa ke tempat service untuk diperbaiki, Sparepartnya tidak tersedia pula.
"Nak cari pasal nian pacaknyo PLN ini. Berijolah kamu gek men TV ni ku hempaskan di Kantor kamu (PLN-red). Uji uwong service dak katek pulo jualan sparepartnyo di Prabu ne dan harus dibawa Plembang. Alangkah saronyo. Men cak ini kito minta nian pertanggungjawaban PLN. Jangan sekendak perut dio bae. Kapan kito telat bayar langsung putus. Berijolah PLN, jingok bae gek, men masih mati lampu pasti ado yang saro" tegasnya.
Atas kejadian ini, PLN harusnya segera membenahi pelayanan terhadap pelanggan, setidaknya, meminimalisir pemadaman agar tidak mengecewakan dan merusak barang elektronik konsumen.
PLN rajin menagih bahkan mendenda konsumen jika terlambat membayar listrik, hal itu sebaiknya dibarengi juga dengan pelayanan terbaik terhadap konsumen. (pp/01)
Tak pelak warga pun mulai kesal dimana kejadian luar biasa ini mulai mengahantui. Tercatat mulai tanggal 27 hingga tanggal 30 mei 2013 setiap sore menjelang Maghrib mati lampu secara tiba-tiba. Bahkan kegiatan Adzan pun menjadi terganggu akibat seringnya mati lampu.
"TV LCD saya yang 42 inch sebentar lagi akan saya hantarkan ke PLN. Dak diganti begocoh jadi. Ado nian. Ini dak main-main. Silahkan bae mati lampu dengan catatan ada pemberitahuan agar pelanggan bisa mengantisipasi kemungkinan kerusakan pada peralatan elektronik di rumah. Alat elektronik saya banyak rusak. Kalau sudah seperti ini siapa yang mau bertanggungjawab. Seharusnya PLN profesional, jangan hanya ketika pelanggan terlambat membayar, aliran listrik diputus. Ketika pelanggan dirugikan seperti ini, harusnya PLN juga memberikan kompensasi, itu baru berimbang namonyo" ujar Slamet warga Karang Raja.
Akibat pemadaman lampu tidak karuan oleh PLN, pria yang akrab disapa Memed ini mengaku mengalami kerugian dimana televisi LCD ukuran 42 inchi miliknya rusak. Parahnya, ketika dibawa ke tempat service untuk diperbaiki, Sparepartnya tidak tersedia pula.
"Nak cari pasal nian pacaknyo PLN ini. Berijolah kamu gek men TV ni ku hempaskan di Kantor kamu (PLN-red). Uji uwong service dak katek pulo jualan sparepartnyo di Prabu ne dan harus dibawa Plembang. Alangkah saronyo. Men cak ini kito minta nian pertanggungjawaban PLN. Jangan sekendak perut dio bae. Kapan kito telat bayar langsung putus. Berijolah PLN, jingok bae gek, men masih mati lampu pasti ado yang saro" tegasnya.
Atas kejadian ini, PLN harusnya segera membenahi pelayanan terhadap pelanggan, setidaknya, meminimalisir pemadaman agar tidak mengecewakan dan merusak barang elektronik konsumen.
PLN rajin menagih bahkan mendenda konsumen jika terlambat membayar listrik, hal itu sebaiknya dibarengi juga dengan pelayanan terbaik terhadap konsumen. (pp/01)
