POSMETRO.ID | PRABUMULIH – Babak 8 besar Turnamen Sepak Bola Wali Kota Cup 2025 hampir mencapai garis akhir. Gol demi gol tercipta, kartu kuning dan merah beterbangan, sorak penonton membahana. Namun, ada satu hal yang justru masih “offside” dari perhatian: janji uang pembinaan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Prabumulih.
Dari tribun penonton hingga bangku cadangan, bisik-bisik terdengar. “Hadiah pembinaan sebenarnya berapa sih?” Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan.
Setiap klub sudah merogoh kocek Rp500 ribu untuk biaya pendaftaran. Belum lagi “sumbangan tak resmi” lewat denda kartu kuning Rp50 ribu dan kartu merah Rp100 ribu yang nilainya cukup terasa karena wasit di turnamen ini terbilang “dermawan” membagikan kartu. Ditambah biaya konsumsi, transportasi, operasional, hingga perawatan pemain cedera. Semua itu keluar tanpa ada kepastian imbal balik yang setara.
“Bukan kami tidak ikhlas keluar biaya, tapi tolong transparan. Kalau hadiahnya ternyata kecil, kami bisa main aman saja, biar kantong tidak jebol. Menang atau kalah, yang penting saldo tetap sehat,” kelakar Aden Tamrin, Manager Prabumulih Football, klub yang diunggulkan melaju ke final.
Wali Kota Cup 2025 resmi dibuka oleh Wali Kota Prabumulih H. Arlan pada 26 Juli lalu di Stadion Talang Jimar, dengan 20 klub lokal ikut bertarung. Secara konsep, ajang ini bertujuan menjaring bakat muda dan menjadi wadah pembinaan atlet lokal. Namun bagi peserta, pembinaan terasa jauh, sedangkan pengeluaran terasa dekat.
Saat dikonfirmasi, Ketua KONI Kota Prabumulih, Wedy Saputra, memastikan juara 1–4 akan mendapatkan uang pembinaan, trofi, piala bergilir, dan medali. Namun, ketika ditanya besaran hadiahnya, jawabannya membuat banyak pihak hanya tersenyum kecut.
“Sudah… nanti kita umumkan di final,” ujarnya singkat.
Akhirnya, klub-klub kini tidak hanya memikirkan strategi menembus semifinal, tetapi juga menerka-nerka isi amplop hadiah. Pertanyaan besarnya: cukupkah hadiah nanti untuk menutup “luka dompet” mereka, atau justru menambah cerita bahwa di Wali Kota Cup, misteri terbesar bukanlah taktik lawan, melainkan isi dari amplop pembinaan itu sendiri*
