POSMETRO.ID | DAIRI - Jalan raya sering kali menjadi panggung ketegangan antara petugas kepolisian dan pengguna jalan. Ketika lampu rotator biru menyala di persimpangan dalam sebuah operasi lalu lintas, respons pertama sebagian besar pengendara biasanya adalah kecemasan. Namun, apa yang terjadi di Simpang Empat Lampu Merah Sidikalang, Kabupaten Dairi baru-baru ini, memberikan kita sudut pandang baru tentang bagaimana hukum seharusnya ditegakkan: dengan hati.
Dalam gelaran Operasi Patuh Toba 2026, Polres Dairi yang dipimpin langsung oleh AKBP Otniel Siahaan memilih jalan yang tidak biasa. Tidak ada pemandangan pengendara yang panik memutar balik arah atau adu argumen soal surat tilang. Yang ada justru senyum tipis para pelanggar yang pulang membawa helm gratis, dan binar bahagia anak-anak serta orang dewasa yang mendapatkan cokelat karena telah tertib berkendara.
Langkah ini bukan sekadar aksi bagi-bagi hadiah di jalan raya, melainkan sebuah strategi komunikasi publik yang cerdas. Ada pesan psikologis mendalam yang ingin disampaikan.
Pertama, edukasi berbasis solusi. Menegur pengendara yang tidak memakai helm adalah kewajiban hukum. Namun, memberikan mereka helm untuk langsung dipakai adalah wujud kepedulian nyata. Polisi hadir bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan masyarakat pulang ke rumah dengan selamat. Helm gratis itu menjadi pengingat fisik di kepala mereka bahwa nyawa mereka berharga.
Kedua, apresiasi terhadap kepatuhan. Selama ini, panggung pemberitaan sering kali hanya menyoroti para pelanggar lalu lintas. Mereka yang taat, yang sabar mengantre di lampu merah, dan yang memakai spion lengkap kerap luput dari perhatian. Pemberian cokelat oleh Polres Dairi adalah bentuk insentif positif (positive reinforcement).
Pesannya jelas: menjadi warga negara yang taat aturan itu dihargai.
Kapolres Dairi mengingatkan kita pada satu esensi penting: "Jangan menggunakan helm hanya karena takut ditilang, tetapi gunakanlah karena kita menyayangi diri sendiri dan keluarga."
Pernyataan ini menantang kita untuk meredefinisi budaya berkendara. Tertib lalu lintas seharusnya tidak lagi didorong oleh faktor eksternal—seperti takut pada denda atau keberadaan petugas—melainkan oleh kesadaran internal bahwa keselamatan adalah hak dan kebutuhan dasar setiap individu.
Ketika penegakan hukum dibungkus dengan pendekatan yang humanis dan persuasif, kepatuhan yang lahir bukanlah kepatuhan yang dipaksakan, melainkan kepatuhan yang ikhlas. Aksi simpatik di Dairi ini adalah contoh nyata bahwa wajah kepolisian yang tegas tetap bisa tampil penuh kasih dan kepedulian. Semoga manisnya cokelat dan kokohnya helm gratis hari itu, mampu merekatkan kembali kedisiplinan di jalan raya yang berkelanjutan.
Mula Pangaribuan
