PRABUMULIH, PP- Kalau di era tahun 1980 an kota Prabumulih terkenal sebagai kota minyak dan nanas ( Minas) Karena waktu itu buah yang dikenal manis dan kaya vitamin dan memilik serat tersebut melimpah ruah , untuk mendapat kannyapun sangat mudah , baik di los sayur pasar Impres maupun di terminal atau stasiun kereta api . Tetapi saat ini sudah mulai langka , walaupun ada hanya di beberapa tempat saja yakni di jalan Baturaja-Prabumulih atau di seputar RM.Siang Malam, harganya cukup mahal mencapai Rp 5 ribu perbuahnya.
Menurut pedagang di Sukaraja dan RM. Siang Malam, Ardi dan Halimah kemaren siang saat disambangi Koran ini menjelaskan kalau pasokan buah nanas sangat sedikit , walaupun ada bukan lagi dari wilayah kota Prabumulih tetapi dari wilayah Kecamatan Rambang Dangku dan Kecamatan Kelekar. “ Wah, pak buah nanas sekarang makin sulit di dapat , untuk di Prabumulih boleh dibilang langka. Sebab sekarang pasokan bukan dari Wilayah Prabumulih tetapi dari wilayah Kabupaten Muara Enim ,” ujarnya
Disinggung harga belinya, menurut dia sudah mahal , yang buahnya besar dan bagus ( bungaran --red) mencapai Rp. 4 ribu perbuah. Makanya mereka jual untuk satu ikat isi 5 buah Rp 25 ribu. Beda pada waktu dulu, diera tahun 1980 an buah nanas banyak dipasok dari Prabumulih yakni dari Kecamatan RKT , tetapi sekarang para petani di wilayah yang dulunya pemasok nanas tidak lagi menanamnya , diperkirakan hasilnya tidak berimbang dengan modal yang di keluarkan , beber Ardi yang telah menggeluti usaha ini turun temurun sejak dari kakeknya .
Di tempat terpisah ketika Koran ini mintakan pendapat dengan salah seorang petani nanas di wilayah Kecamatan Kelekar ,M.Ruslan mengaku kalau tanaman nanas memang sekarang dijadikan tanaman tumpang sari di kebun karet. Selama menunggu karet belum produksi . Dia mengaku hasil nanas cukup lumayan , untuk panen perdana, buah bungaran ,yang buahnya besar untuk lahan satu hektar dalam setahun bisa menghasilkan Rp 5 juta rupiah, jelasnya
Sementara ketika dikonfirmasi dengan pihak Dinas Pertanian kota Prabumulih Ir Hanunah melalui kassubag pertanian , Ir.Syamsul membenarkan kalau saat ini para petani di wilayah kota Prabumulih enggan utuk membudidayakan tananaman buah nanas karena nilai ekonominya sangat rendah yakni biaya pengeluaran tinggi sementara hasilnya sedikit "yaaa dak balek modal ,malahan rugi ma akanya para petani memilih hanya menanam karet, ungkapnya( bmg)
Berita Terkait
- Ini Dia Caranya Mengetahui Type Pria Nakal Atau Tidak
- Deteksi Dini Kemungkinan Anda Tidak Waras
Disinggung harga belinya, menurut dia sudah mahal , yang buahnya besar dan bagus ( bungaran --red) mencapai Rp. 4 ribu perbuah. Makanya mereka jual untuk satu ikat isi 5 buah Rp 25 ribu. Beda pada waktu dulu, diera tahun 1980 an buah nanas banyak dipasok dari Prabumulih yakni dari Kecamatan RKT , tetapi sekarang para petani di wilayah yang dulunya pemasok nanas tidak lagi menanamnya , diperkirakan hasilnya tidak berimbang dengan modal yang di keluarkan , beber Ardi yang telah menggeluti usaha ini turun temurun sejak dari kakeknya .
Di tempat terpisah ketika Koran ini mintakan pendapat dengan salah seorang petani nanas di wilayah Kecamatan Kelekar ,M.Ruslan mengaku kalau tanaman nanas memang sekarang dijadikan tanaman tumpang sari di kebun karet. Selama menunggu karet belum produksi . Dia mengaku hasil nanas cukup lumayan , untuk panen perdana, buah bungaran ,yang buahnya besar untuk lahan satu hektar dalam setahun bisa menghasilkan Rp 5 juta rupiah, jelasnya
Sementara ketika dikonfirmasi dengan pihak Dinas Pertanian kota Prabumulih Ir Hanunah melalui kassubag pertanian , Ir.Syamsul membenarkan kalau saat ini para petani di wilayah kota Prabumulih enggan utuk membudidayakan tananaman buah nanas karena nilai ekonominya sangat rendah yakni biaya pengeluaran tinggi sementara hasilnya sedikit "yaaa dak balek modal ,malahan rugi ma akanya para petani memilih hanya menanam karet, ungkapnya( bmg)
Berita Terkait
- Ini Dia Caranya Mengetahui Type Pria Nakal Atau Tidak
- Deteksi Dini Kemungkinan Anda Tidak Waras