SINDUR, PP - Pasca kerusuhan warga di Kelurahan Payuputat Selasa (28/05) lalu, yang mengakibatkan puluhan orang menjadi korban dan tiga diantaranya mengalami luka cukup serius, yakni Lurah Payuputat Prana Desta, Eka alias Eko, dan Anggota Polisi dari Polres Prabumulih Brigadir Harahap harus menjadi pelajaran penting bagi aparat keamananan di Negeri ini.
Pasalnya, ratusan aparat kemanan yang diturunkan untuk mengamankan situasi sebelum kekacauan terjadi di TKP ternyata tidak bisa berbuat banyak. Parahnya lagi, dihadapan Kapolres, Lurah Payuputat dihajar habis-habisan oleh warga yang kesal terhadap kebijakan Lurah yang diduga menjual tanah ulayat secara sepihak.
Lurah Prana Desta yang semula mempercayakan keamanannya kepada aparat Kepolisian ternyata malah menonton aksi anarkis warga terhadap dirinya. Aparat Kepolisian tak mampu menghentikan amukan massa yang secara membabibuta menyerang Lurahnya itu. Kendati upaya penyelamatan lurah yang terkepung didalam kantor telah dilakukan oleh Polisi saat itu namun, massa yang beringas tampak lebih agresif dan mampu merebut Lurah dari genggaman Polisi.
Lurah Prana Desta pun terkapar dan terbiarkan beberapa saat di hamparan sawah setelah massa puas meluapkan kekesalannya dengan berbagai cara terhadap dirinya dihadapan Polisi. Beruntung, Desta (begitu sapaan akrab Lurah Payuputat ini biasa disapa) masih bisa terselamatkan kendati mengalami luka yang serius dan mengalami koma di RS Pertamedika Pertamina Prabumulih.
Isu yang berkembang ditengah-tengah masyarakat menyebutkan bahwa penjualan tanah ulayat warga Desa Payuputat ini diduga juga melibatkan orang nomor satu di Polres Prabumulih. Dalam salah satu surat tanah jual beli, didapati salah satu nama Yerry Oskag SIK sebagai pemilik. Hal ini juga yang membuat emosi warga meledak-ledak mana kala tanah ulayat milik warga dikuasai oleh orang lain tanpa sepengetahuan warga desa.
Spontan, warga yang mengetahui tanah ulayat telah terjual kepihak lain yang notabene aparat penegak hukum lantas melakukan aksi hukum sendiri. Ratusan dan bahkan ribuan warga lantas mendatangi kantor Kelurahan tak perduli meski disana telah dilakukan penjagaan oleh pihak kemanan termasuk Kapolres Prabumulih. Aksi Hukum Rimba pun digelar dan mengakibatkan, Lurah, Eka alias Eko (yang mengklaim Tanah) serta Aparat Kepolisian dan wartawan tak luput menjadi korban.
Pasalnya, ratusan aparat kemanan yang diturunkan untuk mengamankan situasi sebelum kekacauan terjadi di TKP ternyata tidak bisa berbuat banyak. Parahnya lagi, dihadapan Kapolres, Lurah Payuputat dihajar habis-habisan oleh warga yang kesal terhadap kebijakan Lurah yang diduga menjual tanah ulayat secara sepihak.
Lurah Prana Desta yang semula mempercayakan keamanannya kepada aparat Kepolisian ternyata malah menonton aksi anarkis warga terhadap dirinya. Aparat Kepolisian tak mampu menghentikan amukan massa yang secara membabibuta menyerang Lurahnya itu. Kendati upaya penyelamatan lurah yang terkepung didalam kantor telah dilakukan oleh Polisi saat itu namun, massa yang beringas tampak lebih agresif dan mampu merebut Lurah dari genggaman Polisi.
Lurah Prana Desta pun terkapar dan terbiarkan beberapa saat di hamparan sawah setelah massa puas meluapkan kekesalannya dengan berbagai cara terhadap dirinya dihadapan Polisi. Beruntung, Desta (begitu sapaan akrab Lurah Payuputat ini biasa disapa) masih bisa terselamatkan kendati mengalami luka yang serius dan mengalami koma di RS Pertamedika Pertamina Prabumulih.
Isu yang berkembang ditengah-tengah masyarakat menyebutkan bahwa penjualan tanah ulayat warga Desa Payuputat ini diduga juga melibatkan orang nomor satu di Polres Prabumulih. Dalam salah satu surat tanah jual beli, didapati salah satu nama Yerry Oskag SIK sebagai pemilik. Hal ini juga yang membuat emosi warga meledak-ledak mana kala tanah ulayat milik warga dikuasai oleh orang lain tanpa sepengetahuan warga desa.
Spontan, warga yang mengetahui tanah ulayat telah terjual kepihak lain yang notabene aparat penegak hukum lantas melakukan aksi hukum sendiri. Ratusan dan bahkan ribuan warga lantas mendatangi kantor Kelurahan tak perduli meski disana telah dilakukan penjagaan oleh pihak kemanan termasuk Kapolres Prabumulih. Aksi Hukum Rimba pun digelar dan mengakibatkan, Lurah, Eka alias Eko (yang mengklaim Tanah) serta Aparat Kepolisian dan wartawan tak luput menjadi korban.
Akibat dari peristiwa berdarah ini, beredar kabar Pihak Mabes Polri akan melakukan pergantian Kapolres Prabumulih, yang sebelumnya dijabat AKBP Yerry Oskag SIK.
Kabar pergantian ini dibenarkan oleh fihak Polda Sumsel, yang tak mau disebut namanya. "Benar Kapolres Prabumulih akan diganti. Dan pengganti Kapolres Yerry Oskag, adalah perwira di Mapolda Sumsel. Sedangkan AKBP Yerry akan bertugas di Polda Kepulauan Riau sebagai Wadir Narkoba," jelasnya.
Rencananya pelantikan Kapolres baru ini akan dilakukan secepatnya, dalam minggu pertama di bulan Juni ini.Sebelumnya, rencana pergantian Kapolres ini sudah terdengar, kemungkinan akibat terjadinya Insiden Payuputat di minggu terakhir bulan Mei kemarin, maka pergantian ini tampaknya dipercepat.
Yang jelas, Pekerjaan Rumah Kapolres Prabumulih mendatang, adalah secepat mungkin melakukan penyelidikan dan penyidikan tekait insiden Payuputat. (bmg)

