• Jelajahi

    Copyright © POSMETRO.ID
    POSMETRO.ID

    Iklan

    Kriminal

    Carut Marut Konpensasi Blow Out Talang Jimar

    12 Mei 2013, Mei 12, 2013 WIB Last Updated 2013-05-12T05:25:25Z
    Masukkan scrip iklan disini
    PRABUMULIH, PP - Kasus blowout yang menimpa ribuan masyarakat Kelurahan Suka Raja Kota Prabumulih pasca semburan gas bercampur lumpur sumur Rig D1000 PDSI TLJ 25 INF/240 akhir bulan Maret kemarin, bak benang kusut yang sulit diluruskan. Kasus kecerobohan pekerja yang berakhir disebut dengan faktor alam oleh PT.Pertamina EP Asset 2 Field Prabumulih ini belum ada tanda-tanda penyelesaian yang sempurna. 

    Upaya demi upaya menutup semburan gas yang masih keluar dari sumur yang direncanakan mampu memenuhi target peningkatan produksi gas yang ditugaskan pemerintah itu pun terus dilakukan.  Belum usai pekerjaan yang satu, PT.Pertamina sudah dihadapkan dengan persoalan baru. Permasalahan kompensasi dan bangunan rumah warga yang banyak mengalami retak, pasca blow out sumur gas yang dikelola Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) tersebut kian menambah kusutnya benang masalah.

    Diantaranya bangunan rumah milik Siti Komariah (45) warga RT 02 RW 03, Kelurahan Sukaraja yang berada sekitar 30 meter dari lokasi sumur TLJ 25 INF/240. Selain banyak ditemukan garis retak cukup panjang pada beberapa bagian dinding, lantai rumah pedagang sayur ini juga ditemukan sudah amblas sebagian.

    Istri Subagio (44) yang saat dikunjungi sedang tidak berada dirumahnya ini mengaku pasrah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Hal itu karena hingga memasuki hari ke-40, pasca diperbolehkannya warga kembali ke rumahnya masing-masing.

    Pihak Pertamina disebutnya belum sekalipun mendata dan mengecek ulang kondisi fisik bangunan rumah warga yang berada dalam Ring 1 (0-300 meter) dari lokasi sumur.

    “Dinding tengah rumah samo dinding dapur yang retak, retaknyo diketahui pas 30 hari kami balek dari pengungsian. Hal ini sudah kami laporke samo pemerintah setempat, tapi sampe sekarang katek cerito,” keluh ibu anak tiga ini, seraya menunjukkan lantai atap rumahnya yang juga amblas ke bawah pasca kejadian.

    Dia pun menyesalkan lambannya penanggulangan dari pihak Pertamina EP Asset 2, sehingga menyebabkan masyarakat yang berdomisili di sekitar lokasi sumur TLJ 25 dihantui perasaan takut bangunan rumahnya sewaktu-waktu roboh. “Pihak Pertamina ingkar janji dan membohongi warga. Janganke masalah bangunan retak masalah kompensasi be dak jelas. Padahal jelas-jelas dibumbuhi tandotangan dan matere pulo dihitung 30 hari terhitung hari pertamo kejadian tapi nyatonyo cuma dibayar 8 hari,” ujar saudara kandung Lurah Sukaraja Sukarno ini, kesal.

    Bahkan mirisnya ia katakan, dana kompensasi yang dibayarkan melalui rekening oleh panitia penanggulangan bencana sumur TLJ 25 tidak jelas dan tidak merata. Seperti dia contohkan, kompensasi yang diterima para buruh yang tinggal disekitar lokasi sumur hanya menerima Rp50 ribu perhari per KK (Kepala Keluarga) dan dihitung 8 hari. “Padahal kalu dijingok dari UMR mestinyo Rp70-Rp100 ribu perhari, kalu kami mungkin dijingok dari pedagang dibayar Rp250 ribu perhari dihitung 8 hari jugo,” jelas Siti Komariah.

    Ketakutan yang sama juga dialami Ana (57). Bahkan sebagian dinding rumah janda anak satu dengan satu cucu ini sudah ambruk jatuh ke tanah. Buruh cetak batu bata ini mengaku tidak mempunyai pilihan lain, karena untuk pindah rumah dirinya tidak memiliki uang dan hanya pasrah.

    “Saya hanya buruh cetak bato nak, mau makan sehari-hari be lagi dak cukup. Anak aku mak inilah ngurusi putranyo yang sakit sudah sejak limo tahun lalu, waktu duo hari sudah lahir keno step, sementaro suaminyo (anak menantu -red) kadang begawe kadang idak, yo buruh serabutanlah nak,” ratap perempuan paruh baya ini pasrah.

    Sementara itu berdasarkan pantauan, sedikitnya terdapat sembilan (9) rumah warga yang mengalami retak dan terancam roboh. Kesembilan rumah ini rata-rata memang berada dalam radius 20-30 meter atau masuk Ring 1.

    Selain khawatir rumah tempat tinggalnya roboh, warga juga khawatir sungai yang berada di sekitar pemukiman warga tercemar bahan-bahan chemical dan endapan lumpur sisa semburan sumur yang memadati dan mengenangi sepanjang aliran sungai tersebut.

    “Warga disini bener-bener sudah ketakutan, selain dinding rumah banyak retak dan lantai rumah amblas juga sungai yang sehari-harinyo untuk mandi dan mencuci pakaian sekarang dak pacak dipake lagi kareno la tercemar limbah chemical dan lumpur dari sumur gas tersebut,” timpal Jimmy (55) kepada wartawan.

    Terkait peristiwa tersebut, pihak Pertamina EP Asset 2 Field Prabumulih baik Government & Public Relation Assitant Manager M. Echman, maupun Kepala Layanan Operasional (KLO) Pertamina Gustav, hingga berita ini ditulis belum memberikan pernyataan resmi.(pp/bertanda)
    Komentar

    Tampilkan

    Berita Utama