• Jelajahi

    Copyright © POSMETRO.ID
    POSMETRO.ID

    Iklan

    Kriminal

    Diduga Gunakan Lilin, Omset Usaha Kripik Singkong Turun 75 %

    28 Mei 2013, Mei 28, 2013 WIB Last Updated 2013-05-28T15:35:17Z
    Masukkan scrip iklan disini
    PRABUMULIH, PP  - Masih  ingat  dengan pemberitaan  di  media  surat  kabar  mengenai  beredarnya isu dugaan bahwa kripik singkong atau kripik ubi yang dijual pedagang gerobak keliling mengandung zat berbahaya  dan  mengeluarkan  api  saat di bakar  dan di duga  di dalam  menggoreng  keripik  singkong  trsebut  menggunakan  lilin  .

    Ternyata  apa  yang di beritakan  sebelumnya   tidak benar   yang  mana  salah  satu  warga   menyebutkan  bahwa di dalam menggoreng keripik ubi (singkong red ) di duga   menggunakan zat  berbahaya  atau di campur  zat  kimia  sehingga  membuat  keripik ubi menjadi gurih dan tahan  lebih  dari satu hari  .

    Di  pemberitaan  itu  juga  di sebutkan    di  dalam penggorengan  keripik singkong   di duga   di masukan   lilin."Hal ini  bisa  jadi fitnah  bagi  saya   dan karyawan  saya   dan  sekali  lagi itu   tidak benar  pak wartawan    dan  jelas jelas  pemberitaan  tersebut   merugikan  saya  selaku  pengusaha  kecil  rumah tangga,"  Ungkap Zainal Arifin ( 24)  saat di temui  Selasa (28/5) Siang di  rumah kontrakanya  di  Jalan Jenderal  Sudirman , Kelurahan  Gunung Ibul  Kecamatan Prabumulih Timur

    "Akibat di  beritakan,   omset pendapatan   usaha  kripik  singkong   turun  draktis   sebesar   75%  “   dan  sudah  beberapa  hari ini  sepi pembeli, biasanya  karyawan  saya jika pulang  dari  menjual  keripik  singkong  dengan menggunakan  gerobak   keliling   selalu  habis  terjual, namun pasca  di beritakan   pembeli keripik  mungkin  khawatir  dan  enggan membeli  lagi   sebab  di kira  oleh  pembeli  keripik  mengandung  zat  berbahaya  jadi  mereka  khawatir   kena penyakit,"ungkapnya  dengan nada suara  yang sedih  .
     
    Di jelaskanya  biasanya  produksi  keripik singkong  mencapai  300 Kg   perhari nya  , namun saat  ini  di kurangi   sebab khawatir   tidak  laku  di  pasaran    “ Sebelumnya  ada delapan  orang  karyawan  saya  yang  menjual  keripik   singkong  dan sekarang hanya  tinggal Lima orang  sebab ketiga  karyawan  sudah  pulang kampung  ke   Jawa Tengah  sebab saya tidak  sanggup  menggaji  mereka  karena  omset penjualan saat  ini  lagi turun draktis  bahkan mengalami  kerugian  yang  cukup signifikan," jelas Zainal  tanpa menyebutkan nominalnya .
        
    "Kita  nyambut (ambil-red) singkong  langsung  dari  petani  singkong di  Desa Sungai  Medang   dan  saya   minta  terkait  berita  sebelumnya   yang  menyebutkan bahwa  keripik singkong  menggunakan  zat berbahaya  agar  di klarifikasi  lagi  bahwa  itu  tidak  benar   agar  usaha  kecil  saya ini masih tetap  berjalan  dan  berkembang   sebab  jika  di biarkan  akan  membuat  usaha saya ini  mati  alias  tutup  atau  bangkrut," harapnya.
     
    Bahkan sampai  saat ini  belum ada sama sekali petugas  dari Dinkes Prabumulih untuk mengambil  sample  untuk membuktikan apakah  benar  usaha  keripik  singkong    ini mengandung  zat berbahaya  atau  tidak   “Silahkan  team  Dinkes   datang dan cek langsung  tempat usaha  saya  ini  untuk  melakukan observasi dan  sekaligus  pengumpulan data   dan  jika  perlu  langsung  bawa  ke  laboratorium  untuk  di  cek,"  ujarnya   dengan nada suara  geram  . 
       
    Masalah keripik   singkong   di  bakar  oleh  salah   satu   warga  dan mengeluarkan api  itu wajar  karena keripik singkong  sudah  di goreng dan kering    dan kita  di dalam  menggoreng  keripik   menggunakan  minyak  makan murni  artinya  tidak ada  campuran lilin atau zat berbahaya lainya. "Jadi  usaha keripik singkong saya ini  tidak akan bermasalah  untuk  kesehatan," pungkas Zainal (bmg)
    Komentar

    Tampilkan

    Berita Utama