PRABUMULIH, PP - Masih ingat dengan pemberitaan di media surat kabar mengenai beredarnya isu dugaan bahwa kripik singkong atau kripik ubi yang dijual pedagang gerobak keliling mengandung zat berbahaya dan mengeluarkan api saat di bakar dan di duga di dalam menggoreng keripik singkong trsebut menggunakan lilin .
Ternyata apa yang di beritakan sebelumnya tidak benar yang mana salah satu warga menyebutkan bahwa di dalam menggoreng keripik ubi (singkong red ) di duga menggunakan zat berbahaya atau di campur zat kimia sehingga membuat keripik ubi menjadi gurih dan tahan lebih dari satu hari .
Di pemberitaan itu juga di sebutkan di dalam penggorengan keripik singkong di duga di masukan lilin."Hal ini bisa jadi fitnah bagi saya dan karyawan saya dan sekali lagi itu tidak benar pak wartawan dan jelas jelas pemberitaan tersebut merugikan saya selaku pengusaha kecil rumah tangga," Ungkap Zainal Arifin ( 24) saat di temui Selasa (28/5) Siang di rumah kontrakanya di Jalan Jenderal Sudirman , Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur
"Akibat di beritakan, omset pendapatan usaha kripik singkong turun draktis sebesar 75% “ dan sudah beberapa hari ini sepi pembeli, biasanya karyawan saya jika pulang dari menjual keripik singkong dengan menggunakan gerobak keliling selalu habis terjual, namun pasca di beritakan pembeli keripik mungkin khawatir dan enggan membeli lagi sebab di kira oleh pembeli keripik mengandung zat berbahaya jadi mereka khawatir kena penyakit,"ungkapnya dengan nada suara yang sedih .
Di jelaskanya biasanya produksi keripik singkong mencapai 300 Kg perhari nya , namun saat ini di kurangi sebab khawatir tidak laku di pasaran “ Sebelumnya ada delapan orang karyawan saya yang menjual keripik singkong dan sekarang hanya tinggal Lima orang sebab ketiga karyawan sudah pulang kampung ke Jawa Tengah sebab saya tidak sanggup menggaji mereka karena omset penjualan saat ini lagi turun draktis bahkan mengalami kerugian yang cukup signifikan," jelas Zainal tanpa menyebutkan nominalnya .
"Kita nyambut (ambil-red) singkong langsung dari petani singkong di Desa Sungai Medang dan saya minta terkait berita sebelumnya yang menyebutkan bahwa keripik singkong menggunakan zat berbahaya agar di klarifikasi lagi bahwa itu tidak benar agar usaha kecil saya ini masih tetap berjalan dan berkembang sebab jika di biarkan akan membuat usaha saya ini mati alias tutup atau bangkrut," harapnya.
Bahkan sampai saat ini belum ada sama sekali petugas dari Dinkes Prabumulih untuk mengambil sample untuk membuktikan apakah benar usaha keripik singkong ini mengandung zat berbahaya atau tidak “Silahkan team Dinkes datang dan cek langsung tempat usaha saya ini untuk melakukan observasi dan sekaligus pengumpulan data dan jika perlu langsung bawa ke laboratorium untuk di cek," ujarnya dengan nada suara geram .
Masalah keripik singkong di bakar oleh salah satu warga dan mengeluarkan api itu wajar karena keripik singkong sudah di goreng dan kering dan kita di dalam menggoreng keripik menggunakan minyak makan murni artinya tidak ada campuran lilin atau zat berbahaya lainya. "Jadi usaha keripik singkong saya ini tidak akan bermasalah untuk kesehatan," pungkas Zainal (bmg)
Ternyata apa yang di beritakan sebelumnya tidak benar yang mana salah satu warga menyebutkan bahwa di dalam menggoreng keripik ubi (singkong red ) di duga menggunakan zat berbahaya atau di campur zat kimia sehingga membuat keripik ubi menjadi gurih dan tahan lebih dari satu hari .
Di pemberitaan itu juga di sebutkan di dalam penggorengan keripik singkong di duga di masukan lilin."Hal ini bisa jadi fitnah bagi saya dan karyawan saya dan sekali lagi itu tidak benar pak wartawan dan jelas jelas pemberitaan tersebut merugikan saya selaku pengusaha kecil rumah tangga," Ungkap Zainal Arifin ( 24) saat di temui Selasa (28/5) Siang di rumah kontrakanya di Jalan Jenderal Sudirman , Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur
"Akibat di beritakan, omset pendapatan usaha kripik singkong turun draktis sebesar 75% “ dan sudah beberapa hari ini sepi pembeli, biasanya karyawan saya jika pulang dari menjual keripik singkong dengan menggunakan gerobak keliling selalu habis terjual, namun pasca di beritakan pembeli keripik mungkin khawatir dan enggan membeli lagi sebab di kira oleh pembeli keripik mengandung zat berbahaya jadi mereka khawatir kena penyakit,"ungkapnya dengan nada suara yang sedih .
Di jelaskanya biasanya produksi keripik singkong mencapai 300 Kg perhari nya , namun saat ini di kurangi sebab khawatir tidak laku di pasaran “ Sebelumnya ada delapan orang karyawan saya yang menjual keripik singkong dan sekarang hanya tinggal Lima orang sebab ketiga karyawan sudah pulang kampung ke Jawa Tengah sebab saya tidak sanggup menggaji mereka karena omset penjualan saat ini lagi turun draktis bahkan mengalami kerugian yang cukup signifikan," jelas Zainal tanpa menyebutkan nominalnya .
"Kita nyambut (ambil-red) singkong langsung dari petani singkong di Desa Sungai Medang dan saya minta terkait berita sebelumnya yang menyebutkan bahwa keripik singkong menggunakan zat berbahaya agar di klarifikasi lagi bahwa itu tidak benar agar usaha kecil saya ini masih tetap berjalan dan berkembang sebab jika di biarkan akan membuat usaha saya ini mati alias tutup atau bangkrut," harapnya.
Bahkan sampai saat ini belum ada sama sekali petugas dari Dinkes Prabumulih untuk mengambil sample untuk membuktikan apakah benar usaha keripik singkong ini mengandung zat berbahaya atau tidak “Silahkan team Dinkes datang dan cek langsung tempat usaha saya ini untuk melakukan observasi dan sekaligus pengumpulan data dan jika perlu langsung bawa ke laboratorium untuk di cek," ujarnya dengan nada suara geram .
Masalah keripik singkong di bakar oleh salah satu warga dan mengeluarkan api itu wajar karena keripik singkong sudah di goreng dan kering dan kita di dalam menggoreng keripik menggunakan minyak makan murni artinya tidak ada campuran lilin atau zat berbahaya lainya. "Jadi usaha keripik singkong saya ini tidak akan bermasalah untuk kesehatan," pungkas Zainal (bmg)