POSMETRO.ID, PRABUMULIH – Aula Universitas Prabumulih pada hari itu tak hanya dipenuhi kursi dan suara seminar. Ia dipenuhi semangat. Semangat hijau. Semangat dari generasi muda yang tak ingin tinggal diam menyaksikan bumi makin lelah. Dalam rangka memperingati Hari Bumi Nasional, para mahasiswa pecinta alam (Mapala) Universitas Prabumulih menggandeng ratusan pelajar dari SMA dan SMK se-Kota Prabumulih untuk duduk bersama dalam sebuah seminar bertajuk:
Acara yang digelar dengan sederhana namun penuh makna ini secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Prabumulih, Franky Nasril, S.Kom, M.M., yang hadir memberikan dukungan penuh dan pesan yang menggugah hati.
“Saya tidak ingin kalian hanya jadi penonton. Jadilah pelaku perubahan. Mulailah dari hal kecil seperti memilah sampah, mengurangi plastik, dan menanam pohon,” ucapnya lantang di hadapan para peserta.
Tidak hanya berhenti pada diskusi, seminar ini menyentuh aksi nyata. Sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan, Wakil Wali Kota menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada perwakilan Mapala dan pelajar. Tak lama setelahnya, semua peserta bergerak ke halaman kampus untuk menanam pohon bersama.
Tangan-tangan muda yang biasanya menggenggam gawai, hari itu menggenggam cangkul dan bibit. Tanah digali, akar dirawat, lalu pohon ditanam. Seolah-olah mereka sedang mengubur kepedulian semu dan menggantinya dengan komitmen nyata.
Acara ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain:
-
Ketua Yayasan Universitas Prabumulih, H. Haidir Wady, SE, M.Si,
-
Wakil Ketua Yayasan, Suhardiman Gumanti, ST, MI,
-
Rektor Universitas Prabumulih, Dr. Yuniar Pratiwi, S.Si, M.Si,
-
Perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pertanian, serta seluruh jajaran akademisi dan tenaga kependidikan.
Kehadiran mereka menandakan bahwa gerakan lingkungan bukan hanya urusan mahasiswa, tapi tanggung jawab bersama lintas generasi dan sektor.
Momentum Hari Bumi Nasional ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak harus dimulai dari konferensi internasional atau kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari ruang kuliah, dari halaman kampus, dari tangan-tangan muda di Kota Seinggok Sepemunyian.
“Bumi ini kita warisi, tapi juga akan kita wariskan. Maka rawatlah dengan cinta, bukan hanya wacana,” pesan penutup dari Rektor Universitas Prabumulih, yang disambut tepuk tangan panjang para peserta.
