PRABUMULIH — Senja belum benar-benar turun ketika tawa anak-anak mulai memenuhi halaman sebuah rumah di Jalan A. Wahab Muntang Tapus, Prabumulih Barat. Di sana, tak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Yang ada hanya kehangatan dan rasa menunggu yang sama (Berbuka Puasa-red)
Di beranda rumah itu ada Anggota DPRD Prabumulih dari Komisi I Leoni Ayu Pratiwi, duduk bersila. Di sampingnya, sang ibu, Hj Linda Arlan, sesekali merapikan piring dan gelas yang telah tersusun rapi. Tak ada jarak yang terlihay. Anak-anak dari Panti Asuhan Wahdini dan Aziziyah 2 bebas bergerak, bercanda, bahkan sesekali menyelipkan tanya.
“Sudah lapar?” tanya Leoni sambil tersenyum.
Seorang anak mengangguk cepat. Yang lain tertawa.
Momentum Ramadan sore itu tidak dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan yang terasa tulus. Puluhan anak yatim hadir bukan sekadar sebagai undangan, tetapi seperti keluarga yang pulang ke rumah sendiri.
Di ruang makan, aroma hidangan berbuka mulai menyebar. Kurma tersaji di piring kecil, minuman dingin berembun, dan lauk sederhana yang justru terasa istimewa karena dinikmati bersama. Leoni dan ibunya tak hanya menjadi penyelenggara saat itu melainkan mereka tampak terlibat, menyapa satu per satu, memastikan setiap anak merasa diperhatikan.
Bagi Leoni, kebersamaan itu lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menyebutnya sebagai bentuk syukur yang harus dibagikan.
“Ramadan selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan itu tidak harus dimiliki sendiri,” katanya pelan. “Hari ini kami hanya ingin berbagi, sesederhana mungkin.” ujarnya lagi
Ucapan itu tidak berlebihan. Cara ia menyapa, cara ia duduk sejajar dengan anak-anak, memberi kesan bahwa yang dibangun bukan sekadar citra kepedulian, tetapi relasi yang hangat.
Menjelang azan, suasana berubah hening. Doa-doa dipanjatkan, lirih namun penuh harap. Di antara tangan-tangan kecil yang terangkat, terselip harapan sederhana yakni kebahagiaan, kesehatan, dan mungkin kesempatan untuk merasakan lebih banyak hari seperti ini.
Ketika azan berkumandang, semua serempak membatalkan puasa. Tak ada protokol, tak ada formalitas. Hanya kebersamaan yang mengalir alami.
Di sudut ruangan, seorang anak tampak tersenyum lebar sambil menggenggam kotak makanan yang baru diterimanya. Mungkin nilainya tak seberapa. Namun perhatian yang menyertainya itulah yang membekas.
Sore itu, Ramadan seolah menemukan maknanya yang paling sederhana yaitu tentang berbagi ruang, waktu, dan rasa.
Dan di rumah itu, untuk beberapa jam, kebahagiaan benar-benar terasa milik semua orang
*Jun M
