POSMETRO.ID, PRABUMULIH – Bagi sebagian keluarga, memasuki tahun ajaran baru bukan hanya soal memilih sekolah, tetapi juga menghitung kemampuan ekonomi. Biaya seragam, buku, hingga perlengkapan belajar kerap menjadi beban yang membuat pendidikan terasa semakin mahal.
Di tengah kondisi itu, SMAN 3 Prabumulih berupaya menghadirkan wajah pendidikan yang lebih ramah. Sekolah ini tidak hanya membuka pintu bagi siswa dari keluarga kurang mampu melalui jalur afirmasi, tetapi juga memastikan mereka dapat menjalani proses belajar tanpa merasa dibedakan.
Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, SMAN 3 Prabumulih menerima 16 peserta didik melalui jalur afirmasi, meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya sembilan siswa.
Peningkatan kuota tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen sekolah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Alhamdulillah, tahun ini kami menerima 16 siswa melalui jalur afirmasi. Jumlahnya meningkat dibandingkan tahun lalu. Penambahan ini memang mengikuti kuota yang telah ditetapkan dalam petunjuk teknis SPMB Provinsi Sumatera Selatan," ujar Kepala SMAN 3 Prabumulih, Freni Listiyan, S.Pd., M.Si.
Tingginya kebutuhan masyarakat terlihat dari jumlah pendaftar. Sebanyak 83 calon peserta didik mendaftar melalui jalur afirmasi, sementara kursi yang tersedia hanya 16.
Seleksi pun dilakukan sesuai ketentuan pemerintah dengan mempertimbangkan jarak domisili calon siswa terhadap sekolah.
Namun bagi Freni, memberikan kesempatan masuk sekolah hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan peserta didik mampu bertahan dan belajar dengan nyaman meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Karena itulah, SMAN 3 Prabumulih mempertahankan sebuah program sederhana yang memiliki makna besar, yakni Program Seragam Alumni.
Melalui program ini, sekolah mengumpulkan seragam bekas yang masih layak pakai dari para alumni maupun donatur. Seluruh seragam kemudian dicuci, dirapikan, bahkan di-laundry sebelum diberikan kepada siswa yang membutuhkan.
Program tersebut lahir dari kepedulian agar tidak ada peserta didik yang harus menunda sekolah atau merasa minder hanya karena belum mampu membeli seragam baru.
"Kami ingin meringankan beban orang tua. Seragam yang masih bagus kami kumpulkan, kami bersihkan terlebih dahulu, baru kemudian disalurkan kepada siswa yang membutuhkan. Ada yang berasal dari alumni, ada juga dari para donatur," kata Freni.
Baginya, bantuan itu bukan sekadar soal pakaian sekolah. Lebih dari itu, seragam menjadi simbol bahwa setiap anak berhak berdiri sejajar di ruang kelas tanpa memandang latar belakang ekonomi.
"Kami tidak ingin ada siswa yang merasa berbeda atau minder karena kondisi keluarganya. Semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak," tegasnya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kebijakan tanpa pungutan biaya. Freni memastikan seluruh siswa memperoleh pelayanan pendidikan yang sama tanpa dibebani iuran, termasuk dari komite sekolah.
Selain itu, sekolah menyediakan buku pelajaran melalui sistem peminjaman sehingga siswa tidak perlu membeli buku paket sendiri.
Bahkan apabila ada peserta didik jalur afirmasi yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti buku tulis atau buku tugas, pihak sekolah membuka ruang komunikasi untuk mencari solusi bersama.
"Kalau memang ada siswa yang benar-benar mengalami kesulitan, silakan berkoordinasi dengan sekolah. Kami akan berupaya membantu semaksimal mungkin agar mereka tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan baik," ujarnya.
Bagi SMAN 3 Prabumulih, pendidikan bukan hanya tentang angka kelulusan atau prestasi akademik. Pendidikan adalah memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, dan membangun masa depan.
Di balik bertambahnya kuota jalur afirmasi tahun ini, tersimpan pesan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang menghadirkan harapan bagi mereka yang selama ini dibatasi oleh keadaan ekonomi.
Sebab, ketika kesempatan belajar dibuka seluas-luasnya, yang tumbuh bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keyakinan bahwa masa depan tidak boleh ditentukan oleh kemampuan finansial orang tua, melainkan oleh semangat dan kesempatan yang diberikan kepada setiap anak.
*Jun M
