POSMETRO.ID | SIDIKALANG – Langit Sidikalang pagi itu tampak cerah. Di Pendopo Rumah Dinas Bupati Dairi, suasana terasa hangat ketika perbincangan dengan Bupati Dairi Vickner Sinaga mengalir santai. Namun di balik senyum yang sesekali muncul, tersimpan cerita panjang tentang satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Wahyu Daniel Sagala.
Selasa, 3 Maret 2026 menjadi penanda penting. Tepat satu tahun perjalanan pasangan pemimpin Kabupaten Dairi tersebut sejak mulai menjalankan roda pemerintahan.
Bagi Vickner, perjalanan itu bukanlah lintasan lurus yang mulus. Ia menggambarkannya seperti seorang pelari yang ingin melaju cepat, tetapi kakinya terikat oleh berbagai aturan dan kondisi yang tidak mudah.
“Jadi tanggal 3 Maret 2025 itulah awal masa bertugas kami setelah serah terima jabatan di DPRD. Banyak yang mengira setelah itu kami langsung tancap gas menjalankan visi misi. Kenyataannya tidak semudah itu,” ujar Vickner Sinaga saat berbincang dengan Posmetro.id di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Kamis (5/3/2026).
Cerita itu bermula jauh sebelum ia benar-benar bekerja di daerah. Bersama ratusan kepala daerah lain di Indonesia, ia dilantik secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025.
Usai pelantikan, para kepala daerah langsung mengikuti pembekalan kepemimpinan di Akademi Militer Magelang dalam sebuah retreat selama sembilan hari. Sementara para wakil kepala daerah mengikuti pembekalan selama tiga hari.
Barulah setelah seluruh rangkaian itu selesai, para kepala daerah kembali ke daerah masing-masing untuk melakukan serah terima jabatan dan memulai tugas.
Namun ketika ingin mulai bekerja, Vigner dihadapkan pada kenyataan lain.
“Secara aturan, selama enam bulan pertama kami tidak boleh melakukan pelantikan pejabat eselon. Artinya kami harus menerima seluruh jajaran pemerintahan apa adanya,” katanya.
Situasi itu membuat gerak pemerintahan terasa terbatas. Apalagi APBD 2025 yang harus dijalankan merupakan anggaran yang disusun oleh pemerintahan sebelumnya.
“Kami harus menjalankan program yang sudah ditetapkan sebelumnya. Padahal untuk menjalankan visi misi, tentu dibutuhkan tim yang sepaham dan sejalan,” ujarnya.
Kendala tidak berhenti sampai di situ. Ketika masa penyesuaian hampir selesai, pemerintah daerah kembali dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.
Akibatnya, sebagian anggaran pembangunan di daerah ikut terpangkas.
“Sekitar 20 persen berkurang dibanding tahun sebelumnya. Yang paling terasa tentu pada pembangunan infrastruktur, terutama jalan dan pengairan,” kata Vickner dengan nada sedikit murung.
Namun kondisi itu tidak membuatnya menyerah.Alih-alih berhenti, Vickner mencoba mencari jalan lain. Ia membangkitkan kembali semangat gotong royong yang menjadi budaya masyarakat Dairi.
Para pejabat hingga kepala desa dilibatkan dalam pelatihan etos kerja, sekaligus digerakkan untuk menjalankan berbagai program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.
Salah satu program yang lahir dari semangat tersebut adalah JATAGENA (Jalan Tanpa Genangan Air) yang dijalankan di berbagai desa di Kabupaten Dairi.
“Program ini lahir dari kebutuhan masyarakat. Kita ingin jalan desa tetap bisa digunakan dengan baik meskipun anggaran terbatas,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, kabar baik akhirnya datang. Sebagian anggaran yang sebelumnya dipangkas kini mulai dipulihkan.
“Syukur kepada Tuhan, upaya meminta dukungan ke pusat akhirnya membuahkan hasil. Sebagian anggaran yang terpotong mulai dipulihkan,” katanya sambil tersenyum.
Jika semua proses berjalan lancar, mulai April mendatang setiap kecamatan di Dairi ditargetkan mendapat pembangunan jalan aspal sepanjang sekitar enam kilometer.
Namun Vickner menegaskan pembangunan tidak hanya bergantung pada APBD.
Dalam setahun terakhir, berbagai program lain juga digulirkan. Di antaranya penyaluran puluhan traktor roda empat untuk kelompok tani serta bantuan bibit padi gogo seluas dua ribu hektare.
Selain itu, melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial dan Kementerian PUPR, Pemkab Dairi juga tengah menyiapkan proyek pembangunan senilai sekitar Rp200 miliar yang ditargetkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat.
Program pemberdayaan sosial juga terus berjalan, termasuk pemberian alat kerja bagi penyandang disabilitas serta pembentukan 169 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh wilayah Dairi.
Di sektor kesehatan, Kabupaten Dairi juga berhasil mencapai Universal Health Coverage (UHC) 100 persen dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Sementara di sektor lingkungan, gerakan penanaman pohon terus digalakkan. Dalam delapan bulan terakhir, sebanyak 101 ribu pohon telah ditanam sebagai bagian dari program merawat bumi.
“Kami optimis. Dengan dukungan semua pihak, target menanam satu juta pohon di Dairi akan tercapai,” ujarnya.
Menutup perbincangan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan pemerintahan selama satu tahun terakhir.
“Terima kasih kepada semua stakeholder, pemerintah pusat, provinsi, dan masyarakat Dairi. Tanpa dukungan mereka, tentu perjalanan ini tidak akan bisa kami lalui,” pungkasnya.
*Moela/JM
