POSMETRO.ID , TIMUR TENGAH - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian serangan udara dan rudal terjadi antara Iran dan aliansi Amerika Serikat serta Israel dalam beberapa hari terakhir.
Dilansir dari Al Jazeera, konflik yang kini memasuki pekan kedua tersebut telah memicu ketegangan baru di sejumlah negara kawasan, termasuk Irak dan Lebanon.
Militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran, termasuk fasilitas strategis di Pulau Kharg yang selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran. Washington mengklaim serangan tersebut berhasil menghancurkan beberapa target militer penting.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan jika fasilitas energi atau infrastruktur vitalnya kembali menjadi sasaran serangan.
Ketegangan juga meningkat di wilayah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Ancaman gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global karena berpotensi mempengaruhi pasokan minyak internasional.
Di sisi lain, kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon dilaporkan meningkatkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Pemerintah Israel pun dikabarkan tengah mempertimbangkan operasi militer lebih besar di Lebanon selatan guna menekan aktivitas kelompok tersebut.
Sementara itu, sejumlah serangan drone juga dilaporkan terjadi di Irak, termasuk di sekitar kawasan diplomatik di ibu kota Baghdad, yang menambah ketegangan di kawasan tersebut.
Pengamat internasional menilai eskalasi konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang regional yang lebih luas jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah negara di dunia pun telah menyerukan agar semua pihak menahan diri guna mencegah konflik yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan di Timur Tengah.
