• Jelajahi

    Copyright © POSMETRO.ID
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Kriminal

    Dari Kuli Gudang ke Kursi Wakil Gubernur Sumsel

    17 April 2026, April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T03:05:05Z
    Masukkan scrip iklan disini


    POSMETRO.ID | PALEMBANG — Mei 1968 adalah bulan ketika dunia seperti berdiri di tepi perubahan. Tahun itu, jalanan di Paris dipenuhi mahasiswa yang menuntut masa depan baru dalam gelombang 'May 1968 events". Di Amerika Serikat, luka atas kematian Martin Luther King Jr. belum mengering, menyisakan bara ketegangan rasial dan tuntutan keadilan.


    Sementara di tanah air, arah sejarah juga tengah dibentuk ulang. Orde Baru, baru saja menancapkan fondasinya membawa janji stabilitas, sekaligus menuntut ketahanan dari mereka yang hidup di dalamnya.


    Di tengah dunia yang bergejolak kala itu, pada 2 Mei 1968, lahir seorang anak di keheningan Desa Lebak Budi, Merapi Barat, Kabupaten Lahat. Ia tidak lahir di tengah sorotan, tidak pula dalam riuh sejarah besar. Namun seperti banyak kisah panjang lainnya, perjalanannya dimulai dari tempat yang nyaris tak terdengar.


    Namanya Cik Ujang.


    Dari desa kecil yang jauh dari pusat kekuasaan dan dinamika politik, ia tumbuh dalam lingkungan sederhana. Anak bungsu dari delapan bersaudara itu ditempatkan dengan keras sejak dini, bukan sebagai pilihan, melainkan kebutuhan. Kehidupan di Lahat, dengan bentang alam serta beragam karakter masyarakatnya, membentuk wataknya pelan tapi pasti.


    Diawali dari pendidikan dasar di SD Negeri 12 Ulak Pandan, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Lahat dan SMA Negeri 2 Lahat. Namun, seperti banyak pemuda daerah pada masa itu, pilihan setelah lulus tidak banyak. Lalu apa yang ia lakukan? 


    Cik Ujang memilih merantau.


    Jakarta menjadi tujuan. Bukan dengan jaminan, melainkan tekad. Di ibu kota, ia memulai dari bawah bekerja sebagai kuli gudang di sebuah pusat perbelanjaan. Hari-harinya diisi dengan kerja fisik, mengangkat barang, menerima upah, lalu kembali esok hari dengan rutinitas yang sama.


    Dari gudang, ia berpindah ke bengkel. Lingkungannya berubah, tetapi prosesnya tetap belajar dari bawah. Dari sana, Cik Ujang memahami bahwa pengalaman adalah modal yang tak tergantikan.


    Begitu jika dihitung-hitung hampir tiga tahunan juga ia bertahan di Jakarta sebelum akhirnya pada 1993, ia pulang ke Lahat.


    Keputusan itu menjadi titik balik. Ia tidak memilih jalur aman yang ditawarkan keluarga mengelola kebun kopi dan karet. Sebaliknya, ia mengambil langkah berbeda: membangun usaha sendiri di bidang kayu.


    Pilihan itu bukan tanpa risiko. Pasalnya, pada 1997, ia memulai dengan satu truk kayu yang dikirim ke Jakarta. Dari langkah kecil itu, usaha perlahan berkembang. Pasar terbentuk, kepercayaan dibangun. Nama Ayik Batu Gung kemudian dikenal sebagai bagian dari bisnis yang ia kembangkan pertama kali.


    Di dunia usaha, ia belajar membaca peluang dan mengelola risiko. Ia dipercaya menjadi Komisaris di PT Ayik Batu Gung dan CV Ayik Batu Gung pada periode 2009 hingga 2018. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap ekonomi, tidak sekadar angka, tetapi juga tentang manusia yang bekerja di dalamnya.


    Namun perjalanan Cik Ujang tidak berhenti di bisnis.


    Tahun 2009, ia memasuki dunia politik sebagai Anggota DPRD Kabupaten Lahat. Kepercayaan publik kembali ia peroleh pada periode 2014. Di lembaga legislatif, ia membawa pengalaman lapangan yakni sesuatu yang membedakannya dari banyak politisi lain.


    Kariernya terus bergerak. Pada 2018, ia terpilih sebagai Bupati Lahat dan menjabat hingga 2023. Dalam peran ini, ia menghadapi tanggung jawab yang lebih besar: mengelola daerah, mempercepat pembangunan, serta menjawab harapan masyarakat.


    Pendekatannya dikenal langsung dan praktis. Ia tidak hanya bekerja melalui laporan, tetapi juga turun melihat kondisi di lapangan. Bagi Cik Ujang, pembangunan bukan sekadar konsep, melainkan sesuatu yang harus dirasakan masyarakat.


    Di jalur politik, ia meniti karier secara bertahap di Partai Demokrat. Mulai dari Ketua PAC pada 2001, Bendahara DPC pada 2006, Sekretaris MPC pada 2011, hingga menjadi Ketua DPC Demokrat Lahat pada 2017. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan untuk periode 2021–2026.


    Perjalanan panjang itu menunjukkan konsistensi: tumbuh dari bawah, menguat di struktur, dan bertahan dalam dinamika politik.


    Kini, pada periode 2025–2030, Cik Ujang mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Sumatera Selatan.


    Posisi itu menempatkannya pada tanggung jawab yang lebih luas. Tidak lagi hanya satu kabupaten, tetapi seluruh provinsi dengan kompleksitas persoalan yang beragam. Pengalaman panjangnya dari pekerja kasar, pengusaha, legislator, hingga kepala daerah, menjadi bekal dalam menjalankan peran tersebut.


    Ia membawa perspektif yang terbentuk dari perjalanan nyata. Ia memahami bagaimana rasanya bekerja dari bawah, membangun usaha dari nol, hingga mengelola kebijakan publik.


    Di tengah dinamika Sumatera Selatan hari ini, sosok dengan latar belakang seperti itu menjadi relevan. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari posisi, tetapi juga dari proses yang membentuknya.


    Perjalanan Cik Ujang menunjukkan bahwa jalan menuju puncak tidak selalu dimulai dari pusat. Ia bisa tumbuh dari pinggiran, dari desa, dari ruang-ruang yang sunyi.

    Dari Lebak Budi, langkah itu dimulai.

    Dan hingga kini, langkah itu masih terus berjalan.

    Komentar

    Tampilkan

    Berita Utama