POSMETRO.ID | PRABUMULIH — Di industri minyak dan gas bumi, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh penemuan lapangan baru. Ada pekerjaan yang tidak kalah menantang yakni menemukan cara agar lapangan yang telah lama beroperasi tetap mampu menghasilkan energi.
Tantangan itulah yang dihadapi industri hulu migas di tengah kebutuhan menjaga pasokan energi nasional. Ketika lapangan memasuki fase matang (mature field), upaya mempertahankan produksi membutuhkan lebih dari sekadar pengeboran. Perusahaan harus membaca karakter reservoir, menentukan lokasi sumur, memilih teknologi yang tepat, sekaligus mengendalikan risiko dan efisiensi operasi.
Di Struktur Gunung Kemala, wilayah kerja Pertamina EP (PEP) Prabumulih Field, terlihat ada pemandangan yang tak biasa. Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 mengembangkan salah satu pendekatan tersebut melalui metode batch drilling untuk menekan biaya operasional
Pada Sumur GNK-115, metode itu mengantarkan operasi pengeboran pada sebuah capaian yang menarik perhatian. Hasil uji alir awal pada 5 Oktober 2026 menunjukkan potensi aliran minyak sebesar 2.423,29 barel per hari atau barrels of oil per day (BOPD), disertai gas sebesar 1,95 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day atau MMSCFD).
Tentu saja angka tersebut ini bukan sekadar catatan teknis sebuah sumur. Di baliknya terdapat upaya mengoptimalkan sumber daya yang sudah diketahui, memanfaatkan teknologi dalam proses pengeboran, dan mencari peluang tambahan produksi dari wilayah kerja yang telah lama beroperasi.
Dalam kegiatan Media Trip Prabumulih Field, Kamis (15/10/2026), POSMETRO.ID memperoleh kesempatan mendalami pengembangan sumur tersebut serta strategi operasi hulu migas yang dijalankan PHR Zona 4.
Dari GNK-115, satu pertanyaan menjadi relevan yaitu bagaimana inovasi pengeboran dapat membantu lapangan migas matang mempertahankan kontribusinya terhadap pasokan energi.
Pengeboran minyak bukan pekerjaan sederhana. Sebelum minyak mengalir ke permukaan, selain menginvastasikan dana besar, perusahaan juga harus melalui serangkaian tahapan teknis, mulai dari perencanaan sumur, mobilisasi peralatan, pengeboran, hingga pengujian dan penyelesaian sumur agar siap diproduksikan.
Setiap tahapan membutuhkan peralatan, tenaga kerja, waktu, dan pengendalian risiko. Karena itu, efisiensi bukan hanya soal seberapa cepat mata bor menembus lapisan batuan, melainkan juga bagaimana keseluruhan rangkaian pekerjaan dapat dilakukan secara efektif tanpa mengabaikan keselamatan dan di sinilah batch drilling memperoleh relevansinya.
Metode ini memungkinkan sejumlah sumur yang lokasinya berdekatan dikerjakan secara bertahap dengan memanfaatkan rangkaian operasi pengeboran yang terencana. Dengan pengaturan tersebut, kebutuhan membongkar dan memasang kembali perangkat pengeboran atau rig untuk setiap sumur dapat dikurangi.
"Sederhananya, pekerjaan beberapa sumur dirancang sebagai satu rangkaian operasi, bukan serangkaian pekerjaan yang sepenuhnya berdiri sendiri" ujar Anton Budi Prasetio, Assistant Manager Drilling Operation Area 2 PHR Zona 4 di GNK 115 memberi penjelasan kepada awak media.
Pendekatan tersebut kata Anton membuka peluang penghematan waktu mobilisasi, optimalisasi penggunaan peralatan, dan perbaikan efisiensi operasional. Namun, besarnya manfaat yang benar-benar diperoleh harus dibuktikan melalui perbandingan waktu, biaya, serta kinerja aktual dengan metode sebelumnya.
PHR Zona 4 mulai mengembangkan GNK-115 dan sejumlah sumur di sekitarnya menggunakan metode tersebut sejak 21 Juli 2026. Pengembangan itu merupakan bagian dari penerapan batch drilling di Struktur Gunung Kemala.
"Teknologi ini tidak menghilangkan tantangan bawah permukaan. Karakter batuan, tekanan reservoir, kondisi lapisan produktif, dan rancangan masing-masing sumur tetap membutuhkan kajian teknis tersendiri. Efisiensi dalam operasi permukaan harus berjalan beriringan dengan ketepatan keputusan di bawah permukaan" imbuhnya seraya menunjuk beberapa gambar di layar infokus kepada media.
Artinya, inovasi bukan sekadar menggunakan peralatan yang sama untuk beberapa sumur. Inovasi terletak pada bagaimana keseluruhan pekerjaan direncanakan, dikoordinasikan, dan dievaluasi untuk menghasilkan operasi yang lebih efektif.
GNK-115 bukan satu-satunya sumur di Struktur Gunung Kemala yang dikembangkan melalui pendekatan ini. Sebelumnya, PHR Zona 4 mencatat hasil uji alir awal Sumur GNK-114 pada 27–28 September 2026. Sumur tersebut menunjukkan potensi aliran minyak sebesar 5.605,68 BOPD dan gas 2,96 MMSCFD.
Pengembangan GNK-114 mengombinasikan batch drilling dengan dual completion, yakni teknik penyelesaian sumur yang memungkinkan produksi dari dua interval atau lapisan reservoir melalui satu sumur, sesuai rancangan teknisnya.
Sementara itu, GNK-115 dikembangkan dengan metode batch drilling. Kedua sumur tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi migas di Struktur Gunung Kemala.
Yang menarik adalah Perbandingan hasil uji alir awal kedua sumur. GNK-114 mencatat potensi minyak lebih tinggi daripada GNK-115. Namun, angka itu tidak serta-merta membuktikan satu metode lebih unggul daripada metode lainnya. Karakter reservoir, lapisan produktif, rancangan sumur, serta kondisi pengujian dapat memengaruhi hasil masing-masing sumur.
Karena itu, ukuran keberhasilan inovasi tidak cukup dilihat dari angka produksi awal. Evaluasi juga perlu mempertimbangkan biaya pengembangan, waktu pelaksanaan, kestabilan produksi, tingkat penurunan produksi, dan keseluruhan nilai ekonomis sumur.
Dalam industri migas, awak media melalui media trip Prabumulih Field kali ini disuguhi pemahaman bahwa, hasil uji alir awal merupakan salah satu indikator untuk menilai potensi sumur. Produksi aktual yang berkelanjutan baru dapat dinilai berdasarkan hasil operasi berikutnya.
Pembedaan ini penting agar capaian teknis tidak diterjemahkan secara berlebihan menjadi tambahan pasokan yang seolah-olah sudah sepenuhnya terealisasi.
Setelah pengembangan GNK-114 dan GNK-115, PHR Zona 4 juga merencanakan kelanjutan pengeboran dengan metode batch drilling pada sumur GNK-PD68 dan GNK-PD79. Pengembangan berikutnya menunjukkan bahwa perusahaan masih berupaya mengoptimalkan potensi yang terdapat di sekitar Struktur Gunung Kemala.
If Safety is a Joke, Then Death is The Punchline
Artinya, Keselamatan adalah Hal yang Tidak Bisa Ditawar di Sini
Di balik target produksi dan efisiensi, pengeboran migas tetap merupakan kegiatan industri dengan risiko operasional yang harus dikendalikan secara ketat.
Hasil tinjauan POSMETRO.ID dilapangan, peralatan berat, aktivitas pengeboran, tekanan fluida, serta interaksi berbagai pekerjaan di lokasi pengeboran tentu membutuhkan prosedur keselamatan yang ketat. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Keberhasilan sebuah sumur tidak semestinya dinilai hanya dari banyaknya minyak yang dihasilkan.
PHR Zona 4 mencatat 57.288 jam kerja selamat (safe man-hours) sejak dimulainya pengeboran GNK-115. Angka tersebut menjadi salah satu indikator keselamatan yang dilaporkan perusahaan dalam pelaksanaan operasi kepada media trip Prabumulih Field 2026.
Perusahaan menyatakan kegiatan pengeboran dilaksanakan dengan mengedepankan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), yang mencakup kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan, serta keunggulan operasional (operational excellence).
Namun, angka jam kerja selamat perlu ditempatkan secara proporsional. Angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh profil risiko sebuah pekerjaan. Penilaian keselamatan yang menyeluruh juga membutuhkan informasi mengenai pengendalian bahaya, kepatuhan prosedur, pelaporan insiden, kesiapan tanggap darurat, dan evaluasi pelaksanaan pekerjaan.
Pada akhirnya, teknologi yang efisien harus tetap menjamin bahwa pekerja dapat menjalankan tugasnya dengan aman. Tidak ada tambahan produksi yang layak dibayar dengan pengabaian keselamatan manusia maupun lingkungan.
Aspek inilah yang perlu menjadi bagian dari evaluasi setiap inovasi operasi hulu migas, termasuk ketika metode baru diterapkan pada beberapa sumur dalam satu rangkaian pekerjaan.
Lapangan Tua Yang Terus Dijaga
Sebagaimana diketahui, Lapangan migas Gunung Kemala sudah di temukan sejak sembilan dekade atau sekitar 1933 (Simposium Nasional IATMI 2005). Artinya, lapangan migas yang telah lama beroperasi memiliki tantangan tersendiri. Seiring waktu, karakter reservoir dan kondisi produksi dapat berubah. Perusahaan harus terus mengevaluasi potensi yang tersisa, menentukan lokasi pengembangan yang layak, dan memilih strategi yang sesuai dengan kondisi geologi serta keekonomian.
Dalam konteks itu, pengeboran sumur pengembangan memiliki peran berbeda dari eksplorasi untuk menemukan akumulasi migas baru. Pengeboran pengembangan berfokus pada optimalisasi sumber daya dalam wilayah yang telah diketahui memiliki potensi, sedangkan eksplorasi bertujuan mencari dan membuktikan potensi keberadaan sumber daya baru.
GNK-115 merupakan sumur pengembangan. Nilai pentingnya terletak pada upaya mengoptimalkan potensi migas di Struktur Gunung Kemala melalui penerapan metode pengeboran yang dirancang lebih efisien.
Dengan demikian, strategi seperti ini menjadi relevan ketika industri harus menjaga produksi dari aset yang telah beroperasi selama bertahun-tahun. Mengembangkan sumur baru di lapangan yang sudah dikenal dapat menjadi salah satu pilihan, sepanjang didukung kajian teknis dan keekonomian yang memadai.
Begitu, keberhasilan satu sumur tidak otomatis menyelesaikan tantangan penurunan produksi pada seluruh lapangan. Kontribusinya terhadap produksi lapangan dan wilayah kerja harus dilihat bersama kinerja sumur-sumur lain, kebutuhan investasi, serta perkembangan produksi aktual.
Karena itu, capaian GNK-115 sebaiknya dibaca sebagai bagian dari strategi pengembangan yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pengelolaan lapangan tua.
General Manager PHR Zona 4, Heru Irianto, menyatakan pencapaian GNK-115 menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus mengembangkan terobosan dalam operasi hulu migas.
"Seluruh insan PHR Zona 4 terus berinovasi dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pencapaian di Sumur GNK-115 menjadi pemacu semangat kami untuk tak pernah berhenti mencari terobosan-terobosan baru yang andal dan berkelanjutan," ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan inovasi sebagai bagian dari upaya perusahaan mendukung ketahanan energi. Namun, kontribusi terhadap ketahanan energi pada akhirnya harus tercermin dalam hasil operasi yang terukur dan berkelanjutan.
Senior Manager Subsurface and Development and Planning (SSDP) PHR Zona 4, Reza Nur Ardianto, mengatakan perusahaan akan menjadikan pencapaian tersebut sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan pengurasan minyak dan gas di lapangan matang Zona 4.
"Kami akan menjadikan pencapaian ini sebagai catatan dalam upaya mengoptimalkan pengurasan minyak dan gas di lapangan mature Zona 4 dan terus melakukan inovasi dalam mendukung ketahanan energi," katanya.
Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa pekerjaan belum selesai pada saat sumur menunjukkan potensi aliran awal. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar pengembangan tersebut memberikan hasil yang layak secara teknis dan ekonomis.
Ada sejumlah ukuran yang akan menentukan keberhasilan jangka panjang: berapa besar produksi aktual yang dapat dipertahankan, bagaimana kinerja sumur setelah beroperasi, berapa biaya yang dibutuhkan, serta apakah metode serupa memberikan hasil yang konsisten ketika diterapkan pada sumur lain.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu publik memahami bahwa inovasi industri bukan hanya tentang teknologi yang terdengar baru, tetapi tentang kemampuan menghasilkan manfaat nyata yang dapat diukur.
Bagi industri hulu migas, inovasi yang bernilai adalah inovasi yang mampu menyelesaikan persoalan operasional tanpa mengorbankan keselamatan, menjaga kelayakan pengembangan, dan memberikan kontribusi terhadap pasokan energi.
Bagi masyarakat, ukuran akhirnya lebih sederhana yakni apakah upaya tersebut benar-benar membantu menjaga ketersediaan energi dan memberikan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menjaga Energi, Menjaga Kepercayaan
Pengembangan GNK-115 memperlihatkan salah satu jalan yang ditempuh PHR Zona 4 untuk mengoptimalkan sumber daya migas di lapangan matang. Melalui batch drilling, perusahaan berupaya mengatur pekerjaan beberapa sumur agar penggunaan peralatan dan rangkaian operasi lebih efisien.
Potensi minyak 2.423,29 BOPD dan gas 1,95 MMSCFD pada uji alir awal menjadi capaian yang patut dicatat. Akan tetapi, keberhasilan jangka panjang baru dapat dinilai melalui perkembangan produksi aktual, evaluasi teknis, keekonomian, dan penerapan keselamatan secara konsisten.
Pada saat kebutuhan energi menuntut pasokan yang andal, upaya mengoptimalkan lapangan yang sudah beroperasi tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan industri hulu migas. Tantangannya adalah memastikan setiap keputusan pengembangan memiliki dasar teknis yang kuat dan hasil yang dapat diverifikasi.
Dari Struktur Gunung Kemala, pesan yang muncul bukan semata-mata bahwa satu sumur berhasil mengalirkan minyak. Lebih dari itu, ada upaya untuk menjawab persoalan yang lebih besar: bagaimana teknologi, ketepatan perencanaan, dan disiplin operasional dapat membantu mempertahankan nilai sumber daya energi yang tersedia.
Sebab, dalam industri yang berhadapan dengan risiko, biaya, dan ketidakpastian bawah permukaan, inovasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada keberhasilan awal. Inovasi harus dibuktikan oleh hasil yang bertahan, keselamatan yang terjaga, dan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan * Jun Manurung


