POSMETRO.ID, MUBA - Pagi itu, langit Sekayu belum sepenuhnya terang. Namun di halaman Kantor Bupati Musi Banyuasin, denyut kehidupan sudah bergetar lebih cepat dari biasanya.
Ribuan orang berdatangan. Ada yang membawa harapan, ada yang memikul mimpi. Sebagian datang dari jauh, menempuh perjalanan panjang hanya untuk satu kesempatan: berdiri di panggung Dangdut Academy 8 (DA8).
Antrean mengular panjang. Di wajah-wajah muda itu, terselip cerita yang tak sederhana—tentang perjuangan, tentang keluarga, dan tentang keinginan mengubah nasib lewat suara.
Di antara kerumunan, sesekali terdengar lantunan dangdut yang dilatih berulang-ulang. Ada yang memejamkan mata, ada yang menggenggam mikrofon imajiner, seolah panggung besar sudah benar-benar ada di hadapan mereka.
Hari itu, Sekayu bukan sekadar kota kecil. Ia menjelma menjadi gerbang menuju mimpi besar.
Kehadiran Bupati Musi Banyuasin, HM Toha Tohet, menambah semangat yang sudah membuncah. Ia berjalan menyusuri barisan peserta, menyalami satu per satu, menyapa dengan hangat, seolah ingin memastikan bahwa tak satu pun mimpi di tempat itu merasa sendirian.
“Jangan takut bermimpi. Jangan pernah ragu dengan kemampuan diri sendiri,” ucapnya, lantang namun penuh ketulusan.
Bagi Toha, audisi ini bukan sekadar ajang pencarian bakat. Ini adalah ruang harapan. Tempat di mana anak-anak daerah diberi panggung untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa bersinar di tingkat nasional.
“Muba punya banyak talenta. Tinggal bagaimana kita memberi ruang dan kesempatan,” tambahnya.
Di sudut lain, seorang peserta tampak menggenggam nomor antrean dengan erat. Ia datang bersama orang tuanya. Sang ibu tak henti-hentinya berdoa, sementara sang anak berusaha menenangkan diri.
Mereka bukan satu-satunya. Ada ratusan kisah serupa hari itu. Kisah tentang mimpi yang sederhana, namun diperjuangkan dengan luar biasa.
Dangdut, bagi mereka, bukan hanya musik. Ia adalah jalan.
Audisi D’Academy 8 di Musi Banyuasin tak hanya menghadirkan gegap gempita seni. Ia juga menggerakkan roda ekonomi. Pedagang kaki lima berjejer, aroma makanan menyeruak di udara, dan aktivitas masyarakat meningkat tajam.
Sekayu hidup. Lebih hidup dari biasanya.
Di balik riuh itu, tersimpan satu hal yang sama: harapan.
Harapan bahwa dari ribuan suara yang menggema hari itu, akan lahir satu nama yang kelak dikenal seluruh Indonesia.
Nama yang akan membawa cerita tentang Muba—tentang daerah yang tak hanya kaya sumber daya, tetapi juga kaya akan mimpi.
Dan mungkin, di antara antrean panjang itu, seorang bintang sedang menunggu giliran untuk lahir.
